Jumat, 23 Oktober 2009

Rupanya ada Ling Pati versi imajiner

Oleh Rafael Raga Maran

 

Eh…. dia nongol lagi….?

Siapa dia?

Ya siapa lagi kalau bukan si pendongeng yang satu itu.

Kok baru sekarang dia nongol lagi? Ke mana saja dia selama ini?

Entahlah…. mungkin dia sibuk berselancar di dunia dongeng, atau mungkin karena dia bersibuk-sibuk saja. Entahlah….. Yang jelas, kali ini dia datang dengan ceritera tentang “Lango Limpati.”

Seperti apa ceriteranya?

Setelah saya membaca ceritera berjudul “Lango Limpati” dalam kolom sejarah di eputobi.net, saya berkesimpulan bahwa rupanya ada Ling Pati versi imajiner yang disebut Lango (Rumah) Limpati itu. Limpati imajiner itu yang selama ini dikleim oleh oknum-oknum suku Kebele’eng Keleng tertentu sebagai milik suku mereka. Ya, Limpati yang disinggung dalam tulisan tersebut berada dalam imajinasi penulisnya. Melalui ceritera fiktif itu, si penulis merepresentasikan suatu keinginan yang sudah lama terpendam dalam alam bawah sadarnya untuk menjadikan Ling Pati sebagai milik eksklusif sukunya.

Fiksi itu dibumbui-bumbui dengan koda kiring atau gata yang tidak jelas dari mana asal-usulnya. Gata yang dimaksud adalah Nuhung teme tewong alo boleng boto. Dia menempatkan gata tersebut dalam konteks tindakan asusila yang katanya dilakukan oleh Hule. Dia berceritera bahwa tindakan asusila Hule terhadap Kene itu melahirkan Raga. Baginya Raga itu anak Hule, Raga bukan anak Sani. Karena itu penulis “Lango Limpati” itu pun mati-matian beranggapan bahwa Raga itu bukan pemilik sah Ling Pati.

Tetapi sejarah Lewoingu tidak pernah berbicara seperti itu. Dari perspektif sejarah, Hule itu kelahiran Lewomuda, dekat Lamika. Selama tinggal di Lewoingu, Hule tidak melakukan tindakan asusila seperti yang dituduhkan kepadanya oleh penulis “Lango Limpati” itu. Dari segi usia, Hule itu lebih muda daripada Raga anak Sani. Kalau tuduhan itu benar, Hule sudah dihukum mati menurut hukum adat Lewoingu. Karena tidak melakukan perbuatan yang berkategori kejahatan, maka Hule pun memperoleh salah satu tiang di Koke Bale Lewowerang. Selain itu, Hule juga diberi tugas dalam upacara edeng.

Yang melakukan perbuatan berkategori asusila adalah Plating Lela, kakak kandung dari Metinara. Plating Lela menikah dengan anak perempuan Gresituli bernama Golu Waleng. Meskipun sudah beristeri, Plating Lela punya kebiasaan mengganggu isteri orang lain. Karena itu berdasarkan hukum adat Lewoingu Plating Lela dihukum mati, dengan cara diikat batu dilehernya lalu ditenggelamkan ke laut. Tetapi Plating Lela ternyata berhasil lolos dari jerat hukuman mati itu.

Menyikapi kasus Plating Lela itu Gresituli mengungkapkan kata-kata berikut ini,

Nuhung temeka’ ke’ temeka’, alo boleng botoka’ ke’ botoka’. Ile nele tawa kese’ka’ woka nele gere lere’ka’. Opa huleng di burak bubuk, gowayeng di taki’ toloreng.

Tampak jelas dalam fiksi yang dikemukakan oleh penulis “Lango Limpati” itu, bahwa kata-kata Gresituli tersebut disingkat secara keliru menjadi Nuhung teme tewong alo boleng boto. Kata-kata versi narasumber penulis “Lango Limpati” itu sama sekali tidak berbicara tentang tindakan asusila yang dilakukan Hule, karena Hule tidak pernah melakukan perbuatan tercela itu.

Kembalinya Marsel Sani Kelen ke panggung polemik sejarah Lewoingu disertai ambisi besar untuk membuktikan bahwa Raga itu bukan anak Sani. Tetapi sekali lagi kita menyaksikan kegagalannya. Ya, sejak pertama membicarakan hal itu, dia sudah menunjukkan kegagalannya. Dan kemunculannya kembali kali ini justru menggiring dia untuk jatuh ke jurang kegagalan yang kian sempurna. Risiko itu wajar diterima oleh seorang anak dari suku Kebele’eng Keleng seperti dia yang berusaha sekuat tenaga untuk memutarbalikkan fakta sejarah tentang Sani, Kene, Raga dan Boli.

Kalau anda ingin mengetahui sejarah perkawinan Sani dengan Kene, anda perlu mencari informasi dari pihak Lewoleing juga. Anda perlu ingat bahwa Kene itu anak puteri dari Doweng. Tokoh-tokoh Lewoleing tahu tentang sejarah perkawinan Sani dengan Kene tersebut. Tapi kalau anda memang terus ingin berdongeg, ya silahkan saja terus bedongeng berdasarkan apa-apa yang muncul dalam imajinasimu. 

Lantas anda pun perlu ingat bahwa di Lewowerang-Lewoingu pun terdapat Manu Jagong yang menjadi Lango’ Bele’eng (Rumah Induk) suku Kebele’eng Keleng. Rumah itu dibangun oleh Boli. Jangan karena anda asyik melakukan kleim hak kepemilikan eksklusif atas Ling Pati lalu anda lupa akan rumah sukumu sendiri. Lalu kalau anda mau menyusuri perjalanan sukumu setelah keluar dari Ling Pati, jangan lupa anda susuri pula kasus ketihe’ yang telah saya singgung itu. Kasus ketihe’ merupakan salah satu tahapan yang tidak boleh anda lupakan, karena tanpa kasus itu sukumu tidak kembali ke Ling Pati. Ketika kembali, siapa yang menerima sukumu di Ling Pati? Apakah ketika sukumu kembali ke sana, Ling Pati berada dalam keadaan kosong melompong tanpa penghuninya?

Kalau benar sukumu yang berhak secara eksklusif atas Ling Pati, coba jawab beberapa pertanyaan berikut ini: 1) Mengapa barang-barang pusakamu tidak ditemukan di Ling Pati?; 2) Upacara adat apa saja yang dapat dibuat oleh sukumu sendiri di Ling Pati?; 3) Ahi leang apa yang dapat anda selenggarakan sendiri di kampung lama (Lewookineng)?; 4) Dapatkah anda membuat sendiri upacara seba’ lirong di Ling Pati? 5) Dapatkah anda sendiri mengambil ilu’ dari Ling Pati untuk menyembuhkan orang sakit yang membutuhkan pertolongan? 6) Dll.

Sebagai tambahan hal berikut perlu saya ceriterakan. Karena sakit berat, beberapa waktu lalu, seorang mantan guru mengutus dua orang ke rumah seorang tokoh adat yang tinggal di bagian barat kampung Eputobi. Untuk apa? Si sakit meminta bantuan agar tokoh adat itu berkenan mengajak para pemuka adat untuk membuat upacara di di kampung lama demi kesembuhannya. Tetapi apa jawab tokoh adat yang dihubungi itu? Jawabnya begini, “Mengapa kamu tidak minta bantuan dari Mikhael Torangama Kelen saja untuk membuat upacara dimaksud itu di kampung lama? Selama ini kalian menjadi pendukung setianya. Mengapa kalau giliran susah baru kamu datang minta bantuan ke pihak kita?”

Mendengar itu, dua utusan itu pun mundur teratur tanpa membawa khabar baik bagi si sakit. Seandainya ada tokoh adat di luar Ata Maran dapat membawa tokoh-tokoh adat terkait lainnya ke kampung lama, tepatnya ke Ling Pati untuk memenuhi permintaan si sakit itu, tetapi jika tidak ada tokoh adat dari suku Ata Maran, maka upacara tersebut tidak dapat dilaksanakan. Soalnya, wewenang untuk itu ada di Ata Maran.

Di bagian akhir tulisan ini, saya ingin mengatakan bahwa kembalinya penulis “Lango Limpati” ke panggung polemik sejarah Lewoingu pada dasarnya tidak menghadirkan tantangan baru bagi saya. Dia hanya mengulang dongeng-dongeng lamanya. Dia hanya bergerak dari fiksi yang satu ke fiksi lain seraya membumbuinya dengan penggalan-penggalan gata versi narasumbernya. ***

Kamis, 22 Oktober 2009

Di mana letak Manu Jagong?

Oleh Rafael Raga Maran

 

Jika anda memperhatikan peta yang saya tampilkan dalam tulisan saya berjudul “Tata Kampung Lewoingu Tempo Doeloe,” anda dengan mudah melihat di mana letak Ling Pati dan di mana letak Manu Jagong. Ling Pati itu Lango’ Bele’eng (Rumah Induk) Suku Ata Maran. Manu Jagong itu Lango’ Bele’eng (Rumah Induk) Suku Kebele’eng Keleng.

Di dalam peta tersebut pun anda dengan mudah dapat melihat bahwa letak Manu Jagong itu dekat dengan Lango’ Bele’eng Suku Kumanireng Blikololong. Dengan demikian menjadi jelas pula bahwa Manu Jagong itu terletak di dalam area permukiman Lewowerang-Lewoingu. Komentator dari Madiun yang menulis di buku tamu www.eputobi.net itu keliru ketika dia mengira bahwa saya menempatkan Manu Jagong di luar area permukiman tersebut.

Setelah terjadi kasus ketihe’ Kebele’eng Keleng meninggalkan Manu Jagong, dan bergabung dengan Ata Maran di Ling Pati. Kembalinya Kebele’eng Kelen ke Ling Pati diterima dengan baik oleh Ata Maran. Kembalinya mereka ke Ling Pati itu membuat dong di rumah Ata Maran itu pun dibagi dua, sebagian untuk Ata Maran sebagian untuk Kebele’eng Kelen. Keliru jika ada yang mengatakan bahwa pembagian dong di Ling Pati itu dilakukan di masa Raga dan Boli tinggal bersama-sama di rumah itu.

Setelah pembagian tugas dan tanggungjawab sosial adat terlaksana dan setelah sistem suku di Lewoingu memiliki bentuk yang jelas atau setelah Boli memperoleh legitimasi menjadi Kebele’eng Kelen, dia membangun rumah sendiri, yang dikenal dengan Manu Jagong. Sebelumnya hal serupa itu berlaku di Lewoleing. Rumah yang dahulu dibangun Gresituli menjadi rumah Lewoleing. Dalam perjalanan sejarah, Dalu membangun rumahnya sendiri, yang dikenal dengan Lango’ Bele’eng Doweng One’eng. Sesuai dengan misi Gresituli, Sani kemudian membangun Ling Pati dan tinggallah dia di Lewowerang. Pada mulanya Doweng, Dalu, dan Sani tinggal bersama-sama di rumah orang tua mereka itu.

Setelah Boli menjadi Kebele’eng Keleng dan membangun Manu Jagong, dia sama sekali tidak membuat kleim sepihak bahwa dia mempunyai hak ekslusif atas Ling Pati. Tetapi dia tentu sadar betul bahwa dia dan keluarganya merupakan bagian dari keluarga Ling Pati. Maka hubungan kekeluargaannya dengan Raga dan keluarganya pun tetap terpelihara dengan baik hingga akhir hayatnya. Itulah salah satu kearifan Boli, yang tidak dihiraukan lagi oleh sebagian dari anak-anak muda Kebele’eng Keleng kontemporer.

Termasuk yang mereka tidak hiraukan adalah dua kenyataan berikut, yaitu bahwa Ling Pati itu rumah untuk kebaikan dan kedamaian, dan bahwa tanpa Ata Maran mustahil terlaksana upacara adat resmi apa pun di Ling Pati. Tanpa Ata Maran ahi leang (pesta raya) di Lewowerang pun tidak dapat dilaksanakan. Tanpa Ata Maran upacara yang disebut seba’ lirong (mencari penyebab terjadinya masalah seperti sakit) tidak dapat dilaksanakan. Posisi dan peranan Ata Maran dalam hal-hal tersebut dan dalam hal-hal lain yang tidak disebutkan di sini tidak dapat digantikan oleh suku lain mana pun di Lewowerang-Lewoingu.

Karena dimensi-dimensi sejarah yang demikian nyata itu tidak dihiraukan, maka si komentator dari Madiun itu pun mulai mampu mengeluarkan suara-suara yang aneh bagi kuping orang-orang yang tahu sejarah Lewoingu. Tetapi biarlah dia dan mereka yang sealiran beranehria dengan suara-suara mereka. Toh akan tiba saat bagi mereka sendiri untuk menuai “keanehan-keanehan” juga, karena sejarah mustahil dapat diputarbalikkan sesuka hati mereka. ***

Sabtu, 10 Oktober 2009

Marang Mukeng, dari Sani kepada Raga dan keturunannya, lalu kepada yang lain-lain

Oleh Rafael Raga Maran

 

Kepemimpinan Sani di Lewowerang-Lewoingu (Dumbata-Lewoingu) diteruskan oleh putera sulungnya bernama Raga. Karisma Sani dengan seluruh kekuatan Ulu Wai’-nya turun ke Raga. Maka Raga pun tampil sebagai seorang pemimpin yang sangat berwibawa. Kemampuan Marang Mukeng dari Sani pun tercopy seutuhnya ke Raga. Sebelum Koke Bale dibangun, Raga sudah menunjukkan kebolehannya dalam hal Marang Mukeng.

Marang itu doa agama asli masyarakat Lamaholot. Anak-anak laki-laki Gresituli, khususnya Dalu dan Sani pandai membawakan Marang dalam upacara seperti pembangunan rumah, pembukaan kebun baru, dll. Dalam perkembangannya, tokoh tertentu dari suku Lewolein pun bisa membawakan Marang.

Ketika Sani ditugaskan untuk melaksanakan misi kemanusiaan di Lewowerang, dia membawa serta kemampuannya dalam hal Marang Mukeng ke sana. Maka, selain sebagai pemimpin dia pun bertugas sebagai imam di Lewowerang. Maka Sani disebut juga Ata Marang, orang yang membawakan doa dalam agama asli masyarakat setempat. Dari Sani, kemampuan membawakan Marang diwariskan kepada Raga. Dan Raga adalah imam yang membawakan Marang Mukeng dalam upacara yang pertama kali digelar di Koke Bale Lewowerang-Lewoingu. 

Dari Raga, kemampuan membawakan Marang Mukeng diwariskan kepada anak laki-laki keturunannya. Baru pada era kepemimpinan Nuba anak Gena di Lewowerang-Lewoingu dan sesudahnya, wewenang untuk membawakan Marang Mukeng dibagikan pula kepada tokoh lain di luar suku Atamarang (Ata Maran). Pemberian wewenang itu disebut Gobo Pek. Pemberian wewenang itu dilakukan secara resmi melalui suatu upacara di Rumah Ata Maran, yaitu di Ling Pati. Bapak Bolo Kumanireng Blikololong adalah tokoh di luar Ata Maran yang pertama menerima wewenang tersebut. Kemudian wewenang itu diberikan pula kepada bapak Wadang Kumanireng Blikopukeng, lalu kepada bapak Kuku Beoang. Kemudian wewenang itu pun diberikan pula kepada bapak Geroda Kweng dan bapak Subang Kumanireng Blikopukeng yang biasa disebut Subang Likuwatangneng atau Subang Waha’ang. Beberapa tahun lalu, ada upaya dari orang tertentu dari suku tertentu untuk berusaha menyerobot dengan perhitungan dapat memperoleh wewenang tersebut dari pihak Ata Maran. Dia sempat naik ke dong di Ling Pati untuk tujuan tersebut. Tetapi jelas bahwa upayanya itu sia-sia. Sejak 2006, orang itu tampil sebagai salah satu pentolan perusak tata adat dan pengacau kampung halamannya sendiri. Dia juga terkenal sebagai salah seorang pembela setia para tersangka pembunuh Yoakim Gresituli Ata Maran.

Di luar lingkaran suku Ata Maran tersisa satu orang yang pernah mendapat wewenang untuk membawakan Marang Mukeng. Tetapi orang itu sudah terlalu tua untuk dapat membawakan Marang Mukeng dengan baik dan benar. Sementara itu di lingkungan Ata Maran terus tampil tokoh-tokoh yang dapat membawakan Marang Mukeng. Mereka antara lain bapak Eyeamang Ata Maran yang tinggal di Riang Wolor dan bapak Domi Ata Maran yang tinggal di Lewolaga. Kedua tokoh tersebut sudah menjadi almarhum. Pada masa sekarang ini, tampil bapak Doweng Ata Maran sebagai seorang pembawa Marang Mukeng yang hebat.

Dengan terjadinya kekacauan dan kejahatan besar di kampung Eputobi, pihak Ata Maran tidak akan lagi memberikan wewenang Marang Mukeng kepada orang-orang lain di luar suku Ata Maran. Langkah ini ditempuh untuk mencegah terjadinya politisasi Marang Mukeng oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. ***

Ling Pati dan Manu Jagong di Lewoingu

Oleh Rafael Raga Maran

 

Ling Pati adalah nama yang terbilang terkenal di Lewoingu. Itulah nama rumah Sani, putera ketiga Gresituli. Sani memang memerlukan sebuah rumah setelah dia mendapat tugas dari ayahnya untuk menjalankan misi kemanusiaan di Lewowerang. Tujuan utama penugasan Sani ke Lewowerang adalah menciptakan perdamaian dan persatuan bagi komunitas Lewowerang, yang selama itu sering dilanda pertikaian dan konflik. Untuk itu Sani memerlukan sebuah rumah yang berperan sebagai suatu oase perdamaian, persatuan, dan kebaikan. Oleh Gresituli rumah itu diberi nama Ling Pati.

Kita dengan mudah dapat membayangkan bahwa Gresituli dan kedua puteranya yang lain serta para tetangga mereka pun berpartisipasi aktif dalam pembangunan rumah yang diperuntukkan bagi Sani itu. Dan upacara adat dengan doa (Marang Mukeng) yang terkait dengan pembangunan rumah itu pun tentu dijalani. Ling Pati adalah rumah panggung, dengan empat tiang yang cukup tinggi sebagai pilar-pilar utama penopang keberadaannya. Ujung bawah keempat tiang itu ditancapkan cukup dalam ke tanah guna memperkokoh posisi rumah. Keempat tiangnya dibuat dari kayu terbaik agar tidak mudah keropos.

Di Ling Pati itulah Sani dan Kene tinggal. Di situ lahir Raga dan Boli serta dua orang saudari mereka, yaitu Geyong dan Yedo. Setelah menikah dengan orang Leworook, Geyong berpindah ke sana. Di kemudian hari, Yedo pun menyusul ke Leworook dan tinggal di sana. Raga dan Boli tinggal bersama di Ling Pati hingga masa pembangunan Koke Bale Lewowerang.

Setelah pembagian tugas dan tanggungjawab sosial adat, dan setelah sistem suku menemukan bentuknya yang jelas di Lewowerang, Boli membangun rumah yang dikenal dengan Manu Jagong, yang terletak di sebelah utara Ling Pati. Manu Jagong adalah rumah induk suku Kebele’eng Kelen. Sedangkan Ling Pati adalah rumah Induk suku Atamarang (Ata Maran). Jika kita berjalan masuk melalui Mada Lewowerang, maka dua rumah yang pertama kita jumpai adalah rumah suku Wungung Kweng di sebelah kiri jalan dan rumah suku Kumanireng Blikololong di sebelah kanan jalan. Setelah itu kita akan bertemu dengan Ling Pati di sebelah kiri jalan dan Manu Jagong di sebelah kanan jalan.

Di Manu Jagong keturunan Boli tinggal untuk masa yang cukup lama. Di situ mereka tinggal hingga tiba waktu terjadinya kasus ketihe’ (sejenis ulat yang dapat dimakan) di kebang arang (pondok) mereka yang terletak sedikit di luar bliko (benteng batu) yang melindungi kampung Lewoingu. Karena dirubungi oleh ketihe’ dalam jumlah sangat banyak, maka kebang arang mereka itu pun mau tidak mau dibakar guna menghalau serbuan ketihe’.

Kasus serbuan ketihe’ itu menimbulkan kepanikan dan kekhawatiran tersendiri bagi anggota-anggota keluarga Kebele’eng Kelen. Kasus tersebut membuat mereka meninggalkan Manu Jagong. Mereka kembali ke Ling Pati. Kembali ke Ling Pati berarti kembali ke rumah Ata Maran. Kembalinya mereka ke Ling Pati diterima dengan baik oleh Ata Maran. Kepada mereka diberi tempat yang layak. Maka dong di Ling Pati pun dibagi dua, sebagian untuk Ata Maran, sebagian untuk Kebele’eng Kelen. Setelah kembali ke Ling Pati, mereka tidak lagi mengurusi rumah mereka di Manu Jagong. Hingga kini, Manu Jagong tinggal nama.

Oknum-oknum suku Kebele’eng Kelen generasi kontemporer, yang kurang atau tidak tahu tentang perjalanan sejarah sukunya sendiri, dengan mudah mengkleim bahwa sukunya menjadi pemilik sah Ling Pati. Oknum suku Kebele’eng Kelen sebangsa Marselinus Sani Kelen bahkan berusaha menghapus hak otentik Ata Maran atas Ling Pati berdasarkan alasan yang tidak sesuai dengan fakta-fakta sejarah. Upaya verbalnya itu tampak selaras dengan upaya praktis yang dilakukan oleh kakak-kakaknya di kampung Eputobi, seperti Ditu Kelen dan Mikhael Torangama Kelen dkk yang belakangan ini berkasak-kusuk untuk menyerobot urusan-urusan di Ling Pati.

Kini pihak Ata Maran coba menyaksikan saja dulu, sampai di mana orang-orang yang tidak tahu diri itu, termasuk si kepala komplotan pembunuh salah satu putera keturunan dari Ling Pati itu mampu merecoki urusan-urusan di rumah tersebut. Tapi anda harus ingat bahwa akan tiba saat di mana tata tertib adat istiadat perlu ditegakkan kembali secara nyata agar rumah Ling Pati tidak ternoda oleh tangan-tangan yang berlumuran darah orang yang tidak bersalah itu.***

Sabtu, 03 Oktober 2009

Tata Kampung Lewoingu Tempo Doeloe

Oleh Rafael Raga Maran

peta

Gambar di atas dirancang secara sederhana untuk merekonstruksi tata kampung Lewoingu yang terdiri dari Lewolein (Dungtana) dan Lewowerang (Dumbata) pasca pembangunan Koke Bale, ketika di Lewolein dibangun enam rumah, dan di Lewowerang  dibangun delapan rumah. Kampung Lewoingu itu dilindungi dengan benteng batu, yang dibangun pada era kepemimpinan Gresituli. Benteng batu itu dirancang untuk memberikan perlindungan bagi warga Lewoingu dari serangan musuh.

Selanjutnya kita perlu melihat bagaimana Lewoingu ditata. Kita mulai dengan melihat tata Lewolein (Lewoleing) atau Dungtana. Di situ dibangun enam rumah dan satu Koke. Di dekat pintu masuk (Mada) dari arah Selatan terletak rumah Wulogening dan Lewoanging. Sedikit ke utara dari kedua rumah tersebut terletak rumah Sanione’eng. Lalu di sebelah timurnya terletak rumah Lewolein dan rumah Doweng One’eng. Tak jauh dari kedua rumah itu dibangun Koke. Koke itu terletak di bagian Utara dari Lewolein atau di tengah Lewoingu.

Di seberang Koke Lewolein terletak Lewowerang atau Dumbata. Di Lewowerang dibangun delapan rumah dan satu Koke Bale. Pintu masuk keluar (Mada) Lewowerang berada di sebelah Timur. Tak jauh dari pintu  itu terletak rumah Wungung Kweng dan rumah Kumanireng Blikololong. Di sebelah Barat rumah Wungung Kweng terletak Ling Pati (rumah Ata Maran), rumah yang dibangun oleh Sani, anak laki-laki ketiga dari Gresituli. Ling Pati adalah nama yang diberikan oleh Gresituli untuk rumah Sani itu. Di sebelah Utara Ling Pati terdapat Manu Jagong, rumah Kebele’eng Kelen. Manu Jagong itu didirikan setelah Kebele’eng Kelen keluar dari Ling Pati dengan membawa serta barang-barang pusaka mereka. Setelah mengalami kasus ketihe’ Kebele’eng Kelen kembali ke Ling Pati. Kembalinya mereka ke Ling Pati membuat dong di Ling Pati dibagi dua. Sebagian untuk Ata Maran, sebagian lagi untuk Kebele’eng Kelen.

Di sisi Utara Lewowerang berjejer empat rumah dari Barat ke Timur, yaitu rumah Kebele’eng Koten, rumah Lewohayong, rumah Ama Lubur, dan rumah Lamatukan. Di sebelah Selatan dari keempat rumah itu dibangun Koke Bale Lewowerang. Pelataran yang terletak di antara Koke Bale Lewowerang dan Koke Lewolein disebut Namang.

Situasi kampung Lewoingu seperti tampak dalam gambar di atas berbeda dengan situasi pada masa pra-pembangunan Koke Lewolein dan Koke Bale Lewowerang, juga berbeda dengan situasi setelah kedatangan kelompok Keroko’ Pukeng dll. Pada era kepemimpinan Gresituli kedua Koke tersebut belum dibangun. Yang dibangun Gresituli adalah sebuah rumah pertemuan yang terdiri dari empat tiang. Tiang-tiang itu dibagi-bagi di antara Gresituli, Muking dari Lewotobi yang terletak di kaki gunung Lewotobi, Subang Seng, Lewokukung Lewahe. Lalu rumah Ling Pati pun belum dikenal sebelum Gresituli mengutus Sani untuk menjalankan misi kemanusiaan di Lewowerang. Sebelum Ling Pati dibangun, Sani tinggal di rumah orang tuanya di Lewolein. ***

Jumat, 02 Oktober 2009

Raga Itu Anak Kandung Sani

Oleh Rafael Raga Maran

 

Terjadi kebohongan dan fitnah besar ketika Donatus Doni Kumanireng mengatakan bahwa sebelum menikah dengan Sani, Kene sudah dihamili oleh Hule. Dengan penuh semangat, dia berkampanye bahwa Raga itu anak Hule. Kebohongan dan fitnah itu pun disebarkan oleh salah seorang “murid kesayangannya” bernama Marselinus Sani Kelen. Melalui beberapa tulisannya, si “murid kesayangannya itu” secara sengit membela pendapat bahwa Raga itu anak Hule. Secara terang-terangan dia pernah mengatakan bahwa Raga itu anak hasil perselingkuhan. Tetapi pernyataan mereka tentang Raga itu tidak didukung dengan argumen-argumen yang secara rasional dapat dipertanggungjawabkan. 

Hingga kini kedua orang itu belum juga mampu membuktikan bahwa Raga itu anak Hule. Memang mustahil bagi mereka untuk dapat membuktikannya. Dikatakan mustahil, karena mereka tidak memiliki data-data historis yang dapat diandalkan. Isi kampanye mereka tentang Raga itu bertentangan dengan data-data sejarah yang dapat dihimpun dari berbagai sumber tradisi lisan yang terdapat di Lewoingu.

Melalui tulisan ini, saya sekali lagi ingin menegaskan bahwa Raga itu anak kandung Sani. Raga itu lahir dari rahim Kene yang secara resmi menikah dengan Sani. Pernikahan Sani dengan Kene itu sama sekali tidak berkaitan dengan apa yang oleh Marselinus Sani Kelen disebut prahara itu. Pernikahan Sani dengan Kene terjadi sebelum seseorang bernama Hule itu muncul di Lewowerang-Lewoingu. Hule itu kelahiran Lewomuda, dekat Lamika. Ayah Hule adalah Metinara. Ibu Hule berasal dari suku Hera di Lewomuda.

Dalam hitungan generasi, Hule itu berada di bawah generasi Sani. Dari segi usia, Hule itu lebih muda daripada Raga. Dalam pembagian tugas untuk upacara adat di Koke Bale Lewowerang-Lewoingu, Hule diserahi tugas memegang tali yang diikat pada leher, bagian kepala hewan korban. Dari tugasnya itu dia disebut Hule Kebele’eng Koten.  

Hule kemudian terlibat aktif dalam perang melawan Paji. Dalam perjalanan perang melawan Paji dia terdampar di Lomblen (Lembata). Dia kemudian menetap di sana. Dari Hule inilah lahir suku Kotan di sana. Hingga kini anggota-anggota suku Kotan menyadari bahwa leluhur mereka itu berasal dari Lewoingu. Maka mereka pun memiliki kedekatan batin dengan saudara-saudara mereka dari Lewoingu.

Selama berada di Lewoingu, Hule tidak menimbulkan prahara apa pun. Ayah Hule bernama Metinara pun tidak menimbulkan prahara. Yang sempat berulah buruk adalah salah seorang kakak dari Metinara bernama Plating Lela. Plating Lela menikah dengan salah seorang puteri Gresituli bernama Goluwaleng. Meskipun sudah menikah, Plating Lela sempat mengganggu isteri orang. Perbuatan mengganggu isteri orang itu sering dia lakukan di malam hari dengan sasaran yang berbeda. Dua orang yang ketahuan diganggunya adalah Tanalema dan Watogae. Maka kepadanya dikenakan sanksi adat berupa hukuman mati. Tetapi hukuman mati itu gagal dilaksanakan. Setelah berhasil lolos dari jerat hukuman mati, Plating Lela tidak tinggal di Lewoingu. Karena tak kuat menanggung rasa malu dia sempat bersembunyi di Newa Gelara’ang di Etang Wolo. Dari situ dia pindah ke Lewokluo dan tinggal di sana hingga ajal datang menjemputnya. Dari pernikahannya dengan Goluwaleng lahir Liting Boleng dan Waleng Pihok. Meskipun Plating Lela gagal dihukum mati, Goluwaleng berpisah dengan suaminya itu. Untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, Goluwaleng bersama Liting Boleng, dan seorang anak dalam rahimnya diungsikan ke Lewokung.

Hule mempunyai seorang kakak bernama Buge, dan dua orang adik bernama Blawa dan Bura. Buge menurunkan Amalubur. Hule menurunkan Kebele’eng Koten. Empat bersaudara itu disebut Buge Hule Blawa Bura. Keturunan Hule di Lewoingu antara lain bapak Koli Koten dan bapak Pius Keluang Koten.

Sebelum Hule lahir, Raga sudah lahir. Jadi jelas bahwa pernyataan bahwa Raga itu anak Hule merupakan suatu omong kosong besar dalam pembicaraan tentang sejarah Lewoingu. Omong kosong besar semacam itu disebarluaskan oleh Donatus Doni Kumanireng dan salah seorang “murid kesayangannya” bernama Marselinus Sani Kelen. Ketika berbicara tentang Raga, orang bernama Marselinus Sani Kelen itu hanya menduplikasi pernyataan-pernyataan “gurunya” itu. Karena berpegang teguh pada ajaran sesat “gurunya” si murid yang satu ini pun tidak segan-segan menghina dan memfitnah leluhurnya sendiri. *** 

Puteri-puteri Gresituli

Oleh Rafael Raga Maran

 

Selain memiliki tiga orang anak laki-laki, yaitu Doweng, Dalu, dan Sani, Gresituli juga memiliki beberapa anak puteri. Dari perkawinannya dengan Ktopiwoli dari Lewokaha, lahir pula tiga orang anak puteri, yaitu Yaleng, Goluwaleng, dan Watobabu. Dari perkawinannya dengan Nogo Gunung dari Lewokoli, lahir pula dua orang anak puteri, yaitu Yawa Lepang dan Waituang. Jadi Doweng mempunyai tiga orang saudari, Sani mempunyai dua orang saudari.

Yaleng menikah dengan Laba, seorang pria Paji dari Lewokaha yang terletak di daerah yang menjadi milik Lewotobi, yang terletak dekat Tuakepa. Sebagai belis Yaleng, Gresituli memperoleh tanah Kayobahi Bele’eng (Etang Kayobahi Bele’eng).

Goluwaleng menikah dengan Plating Lela, kakak dari Metinara. Perkawinan Goluwaleng dengan Plating Lela itu diungkap dalam kata-kata, Boang budi rae Ile Hingang Liting Boleng, woka lota tarang pito. Dari perkawinan dengan Plating Lela, Goluwaleng melahirkan seorang anak laki-laki bernama Liting Boleng dan seorang anak perempuan bernama Waleng Pihok. Karena ulahnya yang tak terpuji, Pelating Lela sempat dikenai hukuman mati, namun dia akhirnya lolos dari jerat hukuman mati itu. Tetapi karena tak kuat menanggung rasa malu, Pelating Lela sempat menyembunyikan diri di Newa Gelaraang di Etang Wolo. Dari situ dia pindah ke Lewokluo dan tinggal di sana hingga ajal datang menjemputnya.

Bagaimana nasib Golu Waleng setelah Pelating Lela gagal dihukum mati lalu meninggalkan Lewoingu? Golu Waleng terpaksa berpisah dengan Pelating Lela. Anak puteri Gresituli itu kemudian diungsikan ke Lewokung bersama anaknya yang masih kecil, yaitu Liting Boleng. Ketika itu dia pun sedang mengandung seorang anak. Anak yang dikandungnya itu lahir di Lewokung dan diberi nama Waleng Pihok. Setelah menjadi pemuda, Liting Boleng kembali ke Lewoingu. Di lewoingu dia meninggal dalam usia masih muda. Sedangkan ibunya dan saudarinya tetap tinggal di Lewokung hingga ajal datang menjemput mereka.

Di Lewokung Waleng Pihok menikah dengan Sadi Bau dan melahirkan empat orang anak, yaitu Soge, Sai, Raga, dan Gureng. Setelah Waleng Pihok mati dibunuh oleh Sadi Bau, Liting Boleng menuntut pembagian anak yang lahir dari rahim Waleng Pihok. Berdasarkan kesepakatannya dengan Sadi Bau, Liting Boleng membawa Soge dan Sai ke Lewoingu.

Lantas dengan siapa Watobabu menikah? Dia menikah dengan seorang Paji Wolomeang. Dari pernikahan ini, Gresituli memperoleh tanah (Etang) Umariang.

Dari perkawinan Gresituli dengan Nogo Gunung, lahir pula dua anak puteri, yaitu Yawa Lepang dan Waituang. Yawa Lepang menikah dengan seorang pria dari Lamika (Ruma Sina Kada Yawa). Dari pernikahan ini, Gresituli di kemudian hari memperoleh bantuan tenaga untuk menumpas Paji Lamawulo. Sebagai balas jasa, tanah bekas milik Paji Lamawulo di bagi dua. Sebagian untuk Gresituli, sebagian untuk orang Lamika.

Waituang menikah dengan seorang pria Paji dari Lewokoli bernama Baga. Baga yang menikah dengan Waituang itu bukan saudara kandung dari Nogo Gunung.

Yang perlu diperhatikan ialah bahwa perkawinan Goluwaleng dengan Plating Lela terjadi setelah Gresituli dan keluarganya tinggal di Dung Tana-Lewoingu. Sedangkan perkawinan Yaleng, Watobabu, Yawa Lepang, dan Waituang terjadi sebelum terjadi aksi Tekung Paji (perang melawan Paji) di daerah itu. Dengan perkataan lain, perkawinan mereka itu terjadi di masa damai, ketika masih terjalin relasi yang baik antara keluarga Gresituli dan keluarga-keluarga Paji setempat. Relasi yang baik itu mungkin terjalin dan terbina sebelum berkobarnya perang melawan Paji. Mustahil perkawinan tersebut terjadi setelah meletus perang Demong melawan Paji.

Perang Gresituli melawan Paji Lewokoli mulai dikobarkan ketika dia dan keluarganya tinggal di Lewowato. Salah satu yang jadi korban adalah Baga, saudara dari Nogo Gunung. Sare, adik dari Baga, yang berusaha mencari di mana kakaknya itu berada, setelah menghilang dari Lewokoli, menemukan sendiri di mana jenazah Baga berada. Penemuan jenazah kakaknya itu menimbulkan rasa ngeri dalam dirinya. Dan sejak saat itu hubungan kekeluargaan Lewokoli dengan Gresituli dan keluarganya putus total. Selanjutnya terjadi aksi penumpasan Paji oleh Gresituli dan berbagai kekuatan pendukungnya.

Yang juga perlu diperhatikan ialah bahwa di masa damai tersebut di atas, di Lewohari bermukim Watangpao dan keluarganya yang terbilang dalam kelompok Paji. Setelah mulai merebak aksi penumpasan Paji oleh pihak Demong setempat, barulah Watangpao dan keluarganya meninggalkan Lewohari. Maka menjadi jelas pula bahwa perkawinan beberapa puteri Gresituli dengan pria dari kalangan Paji itu mengindikasikan bahwa kedatangan Gresituli ke Lewokoli dan keputusannya untuk tinggal di situ terjadi pada masa yang lebih awal daripada masa yang selama ini diperkirakan oleh beberapa pihak di Lewoingu. ***