Sabtu, 12 Desember 2009

Wato Sina Yawa di Lewoingu, Flores Timur


Oleh Rafael Raga Maran

Di Lewoingu terdapat sebuah barang berupa batu yang diberi nama Wato Sina Yawa. Kata “wato” berarti batu. Kata “Sina” berarti Cina. Kata “Yawa” berarti Jawa. Istilah Sina Yawa yang digunakan orang Lamaholot pada masa itu mengacu pada orang Jawa dan Cina. Selain itu istilah Sina Yawa juga dipakai untuk mengacu pada pulau Jawa.

Sejak era pra-Lewoingu, para pedagang kelontong dari pulau Jawa sudah berdagang di Lewokoli’ dan sekitarnya. Mereka terdiri dari orang Jawa dan orang Cina. Mereka menjual barang-barang yang dibutuhkan oleh penduduk setempat antara lain pigang (piring) dan mako (mangkuk). Aktivitas perdagangan di daerah itu sempat terhenti di masa perang penumpasan Paji. Seusai perang dan setelah Lewoingu terbentuk denyut nadi perdagangan kembali berdetak. Barang-barang tersebut dan barang-barang lain kembali diperjualbelikan. Dan keberadaan barang-barang seperti pigang dan mako pun direkam dalam marang mukeng (doa) Lewoerang-Lewoingu. Dalam marang mukeng tertentu disebutkan kata-kata pigang Sina mako Yawa (piring Cina mangkuk Jawa).

Tetapi Wato Sina Yawa adalah istilah yang tidak berkaitan dengan orang Jawa dan Cina. Wato Sina Yawa itu berkaitan dengan kedatangan beberapa orang Portugis di Lewoingu pada penghuyung abad ke-17. Wato Sina Yawa adalah nama sebuah batu yang terletak di tepi barat pelataran (namang) yang membentang antara Koke Lewoleing dan Koke Bale Lewowerang. Pada batu itu terpahat tulisan yang menunjukkan tanggal kedatangan beberapa orang Portugis di Lewoingu. Itulah Prasasti Lewoingu, yang bertahunkan 1699. Prasasti itu dibuat oleh Monteiro. Sebelum kedatangan Monteiro dkk, batu itu tak punya nama.

Tidak ada informasi yang sangat jelas tentang siapa sesungguhnya Monteiro dan kawan-kawan dan untuk apa mereka datang ke Lewoingu. Tetapi dari tradisi lisan yang berbicara tentang fungsi Wato Sina Yawa, kita dapat menemukan sedikit petunjuk yang memungkinkan kita dapat menduga bahwa di antara mereka terdapat imam Katolik. Tradisi lisan dimaksud bekaitan dengan persiapan perang.

Jika Lewoingu hendak berperang melawan musuhnya, para pemuka adat tidak hanya membuat upacara yang dimaksudkan untuk mencari alasan yang benar untuk berperang. Mereka juga mengingatkan kepada para prajurit Lewoingu bahwa perang yang akan dikobarkan itu adalah perang demi kebenaran. Karena itu siapa pun yang hendak maju ke medan perang haruslah bersih hatinya. Prajurit yang selama ini melakukan kesalahan perlu membersihkan diri terlebih dahulu sebelum ikut maju ke medan perang. Untuk itu para pemuka adat menyuruh orang yang bersangkutan pergi ke Wato Sina Yawa. Di situ dia mengakui segala dosanya dan memohon pengampunan dari Lera Wulang.

Seseorang yang bersalah tetapi nekad maju ke medan perang tanpa melalui proses penyucian diri terlebih dahulu akan menjadi korban pertama keganasan musuh. Sejarah perang berbicara seperti itu. Karena itu ritus penyucian diri menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian ritus persiapan menghadapi perang demi kebenaran dan keadilan. Dalam hal ini Wato Sina Yawa dijadikan tempat penyucian diri.

Yang jadi pertanyaan ialah mengapa Wato Sina Yawa dijadikan tempat penyucian diri? Penggunaan Wato Sina Yawa sebagai tempat penyucian diri rupanya dimulai sejak kedatangan Monteiro dkk ke Lewoingu. Imam Portugis yang datang ke situ menggunakan batu di pinggir barat pelataran itu sebagai tempat pengakuan dosa. Dugaan tentang kedatangan imam Portugis itu diperkuat oleh kenyataan adanya selembar kain piala yang dipakai dalam perayaan ekaristi. Kain yang menjadi salah satu perlengkapan misa itu tentu dibawa oleh seorang imam. Selama beberapa abad kain itu disimpan di rumah suku Lewoleing. Kain itu ikut terbakar ketika rumah suku Lewoleing terbakar beberapa dekade lalu.

Berdasarkan dugaan di atas kita pun dapat membuat dugaan lain, yaitu bahwa tujuan kedatangan Monteiro dkk ke Lewoingu adalah untuk menyebarkan agama Katolik. Dan batu yang kemudian diberi nama Wato Sina Yawa itu dijadikan tempat pengakuan dosa. Imam itu termasuk di antara lima belas misionaris yang bekerja di daerah Flores Timur sejak tahun 1679. Pada tahun terakhir dari masa tugasnya di Flores Timur, yaitu pada tahun 1699, imam itu mampir di Lewoingu.

Siapakah nama imam itu? Apakah imam itu bernama Monteiro? Kita tidak memiliki informasi yang jelas tentang nama imam itu. Yang jelas setelah Monteiro dkk meninggalkan Lewoingu Wato Sina Yawa dijadikan tempat “pengakuan dosa” oleh masyarakat Lewoingu ketika mereka mempersiapkan diri menghadapi perang.

Selain Wato Sina Yawa, di Lewoingu pun terdapat suatu prasasti lain yang juga dipahat oleh orang Portugis. Tetapi prasasti itu sudah tertimbun tanah. ***

Minggu, 22 November 2009

Knutu Knata tentang asal usul Gresituli

Oleh Rafael Raga Maran

 

Dari mana kita bisa mengetahui bahwa Gresituli berasal dari Jawa? Jawabannya jelas, yaitu dari Gresituli sendiri. Tentang asal usulnya, Gresituli sendiri menuturkan dalam bentuk knutu knata (penuturan dengan bahasa yang indah) sebagai berikut,

Lewo goeng niang Yawa pukeng, tanah goeng niang Sina nimung

Ile goeng niang brusung tana tawa, woka goeng niang kerebo manu gere

Lewo goeng Gresik tana Yawa, tana goeng kesiang ekang boyang

Knutu knata tertera di atas secara jelas menceriterakan bahwa Gresituli itu berasal dari Yawa Sina (Sina Jawa). Kata pukeng dan nimung yang digunakan dalam knutu knata itu menegaskan bahwa dia sungguh-sungguh berasal dari Jawa, yang oleh orang Lamaholot biasa disebut Sina Yawa. Dalam knutu knata itu disebut pula nama ile (gunung) woka (bukit)nya, yaitu brusung tana tawa dan kerebo manu gere. Lalu secara eksplisit disebutkan nama kampungnya, yaitu Gresik di tanah Jawa.

Isi knutu knata tersebut bertentangan dengan isi dongeng Tana Beto. Kalau anda mempelajari knutu knata dan marang mukeng (doa menurut agama asli), anda tidak menemukan adanya bait-bait yang bertutur bahwa Gresituli itu lahir di Tana Beto dan ditemukan serta dipelihara oleh Bota Bewa dan Nuho Rehing. Meskipun terdapat upaya untuk merangkai kata-kata yang dapat dijadikan knutu knata yang disebut juga gata guna membenarkan dongeng tersebut, tetapi upaya itu mengalami kegagalan. Upaya itu nampak dalam susunan kata-kata seperti ini,

Go betok prae koting bala pukeng, bura rae wato tonu lolong

Susunan kata-kata ini tidak berasal dari Gresituli, tetapi dari si pendongeng. Dengan kata-kata tersebut, si pendongeng ingin meyakinkan para pendengarnya, bahwa tokoh bernama Gresituli itu lahir di bawah sebuah pohon beringin yang disebut koting bala atau dia muncul dan berada pada wato tonu (batu padi). Tetapi si pendongeng lupa bahwa yang dia tuturkan itu hanyalah suatu ceritera rekaan imajinasinya. Ceritera itu sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan tentang asal usul Gresituli.

Dongeng yang berceritera bahwa Gresituli lahir di Tana Beto dan dipelihara oleh Bota Bewa dan Nuho Rehing itu baru dirangkai setelah Gresituli tampil sebagai pemimpin tersohor di Lewoingu. Jelas bahwa dongeng itu tidak berasal dari lingkungan keluarga Gresituli, tetapi dari luar lingkungan keluarganya. Dongeng itu dirancang untuk dijadikan mitos tentang asal usul tokoh yang menjadi pemimpin Lewoingu itu, tetapi rancangan itu mengalami kegagalan. Dongeng itu dibuat oleh orang yang tidak mengenal Gresituli.

Dongeng Tana Beto itu tidak berbicara tentang asal usul Gresituli. Dongeng itu mengekspresikan keinginan pendongeng untuk menampilkan diri sebagai pemimpin dan penguasa Lewoingu. Dengan dongeng itu si pendongeng berusaha menyembunyikan kenyataan yang berkaitan dengan asal usul Gresituli. Selain itu dia pun berusaha mengecilkan peran sentral Gresituli dalam pembangunan Lewoingu. Tetapi, karena asal usul Gresituli dan peran sentralnya dalam pembangunan Lewoingu merupakan kenyataan-kenyataan yang tak terbantahkan, maka upaya itu pun mengalami kegagalan.***

Jumat, 06 November 2009

Komentar-komentar itu menyesatkan dan menjijikkan

Oleh Rafael Raga Maran

 

Apakah anda sudah membaca komentar-komentar atas tulisan-tulisan anda tentang sejarah Lewoingu? Komentarnya ramai lho…

Jelas sudah, meskipun terlambat saya membacanya. Maklum, saya tidak sering berkunjung ke alamat situs internet yang memuat komentar-komentar itu? Oh ya, yang anda maksud adalah komentar-komentar yang ditulis oleh Boli Kelen Pankras itu ‘kan?

Iya! Bagaimana sikap anda sendiri atas komentar-komentar semacam itu? Si komentator mensinyalir bahwa orang lain sudah bosan dengan ceritera anda. Katanya, semakin banyak anda menulis semakin banyak orang yang tidak bersimpati kepada anda?

Ya, komentar-komentar semacam itu ditulis oleh orang yang secara pribadi merasa alergi kalau realitas-realitas sejarah tertentu diungkapkan secara apa adanya. Padahal kalau kita berbicara tentang sejarah, kita perlu kemukakan fakta-fakta terkait. Sejarah tak dapat dibicarakan secara kompromistis guna memenuhi selera pribadi atau selera pihak tertentu. Jika seseorang tidak suka dengan isi catatan-catatan sejarah yang saya buat, itu urusan pribadi dia. Menjadi lucu, kalau ketidaksukaan subjektifnya itu lalu digeneralisasi seakan-akan banyak orang lain pun menjadi bosan dengan isi tulisan-tulisan termaksud dan mereka menjadi tidak bersimpati kepada penulisnya. Catatan sejarah itu dibuat bukan untuk menarik simpati.

Yang penting bagi saya ialah bahwa melalui tulisan-tulisan itu para pembaca dapat belajar sesuatu. Di dalam kenyataan kolom Diskusi Sejarah Lewoingu (atamaran2.blogspot.com) diakses oleh banyak orang. Dengan membaca artikel-artikel yang saya tulis itu, para pembaca yang netral dapat melihat siapa yang memutarbalikkan sejarah Lewoingu, siapa yang mengemukakan kebenaran sejarah Lewoingu. Suka atau tidak suka, blog atamaran sudah menjadi salah satu blog yang populer.  Di dalam kenyataan, si komentator itu sendiri tetap membaca tulisan-tulisan saya tentang sejarah Lewoingu itu. Artinya, dia tidak bosan membaca tulisan-tulisan saya tentang sejarah Lewoingu. Kalau dia tidak membacanya, dia tentu tidak bisa membuat komentar-komentar atas tulisan-tulisan saya.

Oke! Tapi komentar-komentar itu mengandung tuduhan yang cukup serius terhadap anda. Anda dituduh memperlebar permusuhan di lewotana (kampung halaman). Anda dinasihati untuk tidak menjadikan masa lalu sebagai alat penghancur lewotana. Apa tanggapan anda?

Baik! Tuduhan semacam itu merupakan salah satu bentuk pengkambinghitaman. Saya sendiri tidak heran dengan penggunaan cara semacam itu. Selama ini, cara semacam itu telah digunakan oleh komplotan yang menjadi penyebab terjadinya kerusakan serta kehancuran di lewotana sana. Mereka yang menyebabkan kerusakan serta kehancuran di lewotana, tetapi orang lain yang dituduh sebagai pelakunya. Mereka yang membunuh orang, tetapi orang lain yang dituduh sebagai pelakunya. Mereka yang memecahbelah persatuan dan kesatuan lewotana, tetapi orang lain yang dituduh sebagai pelakunya. Mereka yang membunuh orang, tetapi orang-orang lain yang dituduh sebagai pelakunya.

Yang mereka kambinghitamkan adalah orang-orang yang dipandang sebagai musuh mereka. Jika mereka menganggap anda sebagai lawan atau musuh, maka mereka pun bisa mengkambinghitamkan anda kapan saja. Karena membela upaya pemutarbalikkan fakta-fakta sejarah Lewoingu yang dilakukan oleh saudara sepupunya, si komentator itu pun melancarkan tuduhan palsu, bahwa saya menginjak-injak harga diri sukunya dan memperlebar permusuhan di kampung halaman. Si komentator itu lupa bahwa dengan komentar-komentarnya itu dia telah menjadi bagian dari orang-orang yang menyebarkan kebohongan publik. Hal ini menjadi jelas ketika dia itu sewot setelah membaca tulisan saya yang antara lain mengatakan bahwa Ling Pati itu rumah induk suku Ata Maran dan Manu Jagong adalah rumah induk suku Kebele’eng Keleng. Sikap penolakannya terhadap kata “pemberian” yang saya gunakan dalam konteks pembicaraan tentang Rie Limang Wanang Koke Bale Lewowerang-Lewoingu merupakan suatu keanehan besar.

Si komentator itu pun lupa bahwa masa lalu telah dimanupulasi sedemikian rupa  oleh saudara sepupunya untuk menciptakan permusuhan dengan pihak kami di kampung. Sekarang setelah kenyataan-kenyataan tertentu yang berkaitan dengan sejarah mereka diungkapkan secara apa adanya, dia pun berusaha melawan dengan cara mengkambinghitamkan saya.

Tetapi jelas bahwa, cara semacam itu tak akan berhasil. Masyarakat di seluruh kawasan Lewoingu dan sekitarnya tahu siapa saja yang menghancurkan kampung Eputobi dan siapa saja yang berusaha menjaga serta merawat kelestarian dan kedamaian kampung tersebut. Anda lihat sendiri ‘kan mereka mendramatisasi dan mempolitisasi isi tulisan-tulisan saya sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan seakan-akan saya yang memulai permusuhan dengan mereka. Padahal oknum-oknum dari sukunyalah yang memulainya. Kebohongan-kebohongan yang mereka sebarluaskan itu tidak boleh didiamkan. Membiarkan kebohongan-kebohongan semacam itu terus berbicara berarti membiarkan apa-apa yang selama berabad-abad terbukti baik dirusak dan dihancurkan. Ya, karena mengemukakan dimensi-dimensi tertentu dari sejarah Lewoingu yang sudah diketahui oleh masyarakat Lewoingu, mereka menuduh saya memperlebar permusuhan. Dengan cara itu, mereka berusaha mempertahankan pendapat-pendapat mereka yang bertentangan dengan sejarah Lewoingu yang sedang didiskusikan itu.

Coba tunjukkan kata-kata mana yang saya pakai untuk menginjak-injak suku si komentator itu. Bukankah isi komentar-komentarnya itu yang justeru menimbulkan permusuhan dengan pihak kami?

Selain menyesatkan, isi komentar-komentarnya itu pun menjijikkan. Saya kira anda tahu sendiri mengapa dikatakan menyesatkan dan menjijikkan. Dengan kata-kata yang menjijikkan itu dia telah menggunakan buku tamu eputobi.net sebagai media untuk mempropagandakan kepentingan pribadinya berdasarkan kebohongan-kebohongan yang disebarluaskan oleh saudara sepupunya. Penulisan komentar-komentarnya di buku tamu eputobi.net itu dimotivasi oleh kepentingan primordialistik, bukan dimotivasi oleh kebutuhan akan persatuan dan kesatuan di lewotana. Kalau dia secara tulus ikhlas memperjuangkan persatuan kesatuan di lewotana, dia tidak perlu memberikan komentar-komentar dengan menggunakan kata-kata yang norak semacam itu. Kami sama sekali tidak membutuhkan simpati dari orang semacam itu. Dalam perjalanan sejarahnya sejak masa kuno hingga kini, suku Ata Maran tidak pernah mengalami kekurangan simpati dan dukungan real dari berbagai pihak.

Ya. Komentar-komentar itu disertai pula dengan kata-kata keras yang ditujukan kepada anda. Apa tanggapan anda?

Bagi saya, barang yang keras itu mudah patah, mudah hancur, mudah remuk. Orang yang mengeluarkan kata-kata yang keras pun mudah hancur juga. Dan pada waktunya nanti, orang yang menuduh tanpa dasar itu akan kena batunya juga. Kita akan terus menyaksikan sampai di mana kemampuan dia dan mereka untuk melancarkan tuduhan semacam itu, sampai di mana pula kekerasan kata-kata dia dan mereka itu kuat bertahan. Biarlah mereka itu patah dan hancur oleh tuduhan palsu dan kekerasan kata-kata mereka sendiri. 

Oke! Sebenarnya masih ada beberapa pertanyaan lain yang ingin saya ajukan kepada anda. Tetapi apa yang telah anda katakan sudah cukup bagi saya. Sebelum pamit dari hadapan anda, saya ingin berpesan, Maju terus pantang mundur demi kebenaran dan keadilan. Jangan takut! ***

Jumat, 30 Oktober 2009

Dong Rumah Panggung di Lewoingu Tempo Doeloe

Oleh Rafael Raga Maran

 

Dalam diskusi tentang Ling Pati di Lewoingu, Flores Timur, istilah dong rua sempat digunakan. Dong adalah istilah Lamaholot yang berarti bale-bale. Rua adalah istilah Lamaholot yang berarti dua. Istilah dong rua mengacu pada dua bagian dari suatu bale-bale. Yang dimaksud di sini adalah bale-bale di suatu rumah panggung yang dikenal di Lewoingu tempo doeloe.

Setiap rumah panggung memiliki satu dong, tempat anggota-anggota suatu keluarga melakukan aktivitas kerumahtanggaan mereka. Di situ, dipasang tungku tempat menanak makanan. Di situ makanan yang sudah ditanak dihidangkan untuk disantap bersama. Di situ pada malam hari mereka tidur untuk melepaskan lelah setelah seharian bekerja. Di situ kerajinan tangan seperti memintal benang dengan suatu perkakas yang disebut mute dikerjakan. Dan masih ada pula kegiatan-kegiatan lain yang dapat dikerjakan di situ.

Orang tua yang memiliki anak gadis yang sudah menjadi pemudi membagi dong di rumahnya menjadi dua bagian. Bagian depan untuk orang tua, dan bagian belakang untuk anak gadisnya. Dengan demikian si gadis tidur terpisah dari kedua orang tuannya. Pada malam hari sebelum tidur, si gadis biasanya memintal benang sebagai bahan untuk membuat sarung. Kadang-kadang pekerjaan itu dilakukan hingga larut malam.

Jika di rumah itu terdapat anak laki-laki yang sudah tumbuh menjadi pemuda, maka si pemuda pun diberi tempat untuk tidur di bagian belakang, tetapi terpisah dari tempat tidur saudarinya. Dengan demikian dapat dikatakan pula bahwa dong bagian belakang itu diperuntukan bagi anak-anak yang sudah tumbuh menjadi pemuda dan pemudi. 

Dapat terjadi bahwa suatu dong memiliki dua (lika lurang) tungku. Satu tungku untuk orang tua, satu lagi tungku untuk anak laki-lakinya yang sudah menikah dan tinggal bersama orang tuanya. Anak laki-laki sulung menjadi pewaris rumah orang tuanya. Jika si sulung mempunyai adik laki-laki, untuk sementara mereka bisa tinggal bersama-sama dalam satu rumah. Setelah menikah, adiknya itu pun akan memilih hidup mandiri. Jika di rumah itu terdapat anak perempuan, maka setelah menikah dia akan keluar dari rumah orang tuanya untuk mengikuti suaminya.

Berdasarkan penjelasan di atas, kita dengan mudah dapat membayangkan adanya pembagian dong di Ling Pati, setelah dua anak laki-laki Sani tumbuh menjadi pemuda dan dua anak perempuannya tumbuh menjadi pemudi. Dengan hadirnya dua pemuda dan dua pemudi, maka dong di rumah Ling Pati pun dibagi menjadi dua bagian. Bagian depan untuk Sani dan Kene, dan bagian belakang untuk kedua anak gadisnya, dengan catatan sebagian dong belakang diperuntukan bagi kedua anak laki-lakinya.

Ketentuan pembagian dong semacam itu perlu diperhatikan agar tidak terjadi asal bunyi ketika kita terlibat dalam pembicaraan tentang dong di Ling Pati. Pembagian dong semacam itu tidak hanya terjadi di rumah Sani, tetapi juga di rumah keluarga-keluarga lain yang memiliki anak gadis dan anak laki-laki yang telah tumbuh menjadi pemudi dan pemuda. 

Kiranya menjadi jelas bahwa pembagian dong di Ling Pati pada era Sani dilakukan berdasarkan alasan tradisional seperti telah dipaparkan di atas. Maka keliru jika ada yang mengatakan bahwa pembagian dong Ling Pati dilakukan berdasarkan  alasan bahwa Raga dan Boli itu berayahkan dua orang yang berbeda. Oleh lawan polemik saya, istilah dong rua telah dipolitisasi sedemikian rupa sehingga bisa mengacaukan pandangan orang tentang apa yang sesungguhnya terjadi di Ling Pati pada masa itu.

Sebagai anak laki-laki sulung dan sesuai dengan tradisi adat setempat, Raga menempati Ling Pati, sehingga Ling Pati menjadi Rumah Induk Suku Ata Maran (Atamarang). Raga inilah yang meneruskan kepemimpinan Sani di Lewowerang-Lewoingu. Sehingga Ulu Wai’ pun diserahkan kepadanya oleh Sani. Seperti halnya Gresituli mempercayakan Ulu Wai’ kepada Dalu dan Sani, Sani pun mempercayakan Ulu Wai’ kepada Raga. Mustahil kekuatan semacam itu dialirkan dari bawah ke atas. Maka terjadi kekeliruan besar, jika penulis “Lango Limpati” mengatakan bahwa Ulu Wai’ itu diberikan oleh Boli kepada Raga.  

Setelah menikah dan setelah menjadi Kebele’eng Keleng, Boli membangun Manu Jagong sebagai Rumah Induk Suku Kebele’eng Keleng. Di kemudian hari, setelah terjadi kasus ketihe’, keturunan Boli memilih kembali ke Ling Pati. Sejak saat itu, dong di Ling Pati dibagi menjadi dua bagian, sebagian untuk Ata Maran dan sebagian lagi untuk Kebele’eng Keleng. Pembagian itu dilakukan berdasarkan alasan praktis, yaitu menyangkut pelaksanaan tugas dan peranan suku mereka dalam tatanan adat Lewowerang-Lewoingu. Sejak mereka kembali ke Ling Pati, Ling Pati dihuni oleh dua suku, dengan hak, tugas dan tanggung jawab masing-masing. Tetapi pembagian dong itu sama sekali tidak menghapus keberadaan Manu Jagong sebagai rumah induk suku mereka dan keberadaan Ling Pati sebagai rumah induk suku Ata Maran.

Tetapi lantaran Manu Jagong tidak lagi direkonstruksi, maka tak mengherankan bila di antara anak-anak muda mereka pun ada yang tidak mengetahui bahwa Manu Jagong sebagai rumah induk suku mereka. Secara sepihak ada di antara mereka yang mengkleim bahwa Ling Pati adalah hak milik eksklusif mereka. Tetapi kleim seperti yang dilakukan oleh Marsel Sani Kelen itu didasari alasan-alasan semu. ***

Rabu, 28 Oktober 2009

Seuntai kata yang menyesatkan

Oleh Rafael Raga Maran

 

Masih ingat untaian kata-kata ini, Nuhung teme tewong alo boleng boto, bukan?

Jelas masih ingat. Itu adalah ayat kesukaan dari si pendongeng itu ‘kan?

Ya, itu adalah ayat kesukaannya. Sebelumnya dia pernah menggunakan rangkaian kata-kata seperti ini, Nuhung teme tewong alo boleng bola.

Seorang pembaca eputobi.net pernah berkesan bahwa orang yang memunculkan kata-kata tersebut dan knutu knata lain dalam polemik sejarah Lewoingu terbilang orang yang punya pengetahuan yang cukup memadai tentang sejarah Lewoingu. Tetapi setelah mengetahui bahwa untaian kata-kata itu ternyata tidak cocok dengan realitas sejarah yang dengan mudah dapat direkonstruksi, dia baru menyadari bahwa penilaiannya terhadap pengguna ayat tersebut keliru.

Telah saya katakan bahwa nuhung teme tewong alo boleng boto adalah penyingkatan secara keliru oleh penulis “Lango Limpati” atas kata-kata Gresituli dalam menyikapi kasus Plating Lela. Yang dikatakan oleh Gresituli adalah kata-kata berikut ini,

Nuhung teme ka’ ke’ teme ka’, alo boleng boto ka’ ke’ boto ka’. Ile nele tawa keseka’ woka nele gere lere ka’. Opa huleng di burak bubuk, gowayeng di taki’ toloreng.

Rangkaian kata-kata tertera di atas menggambarkan keadaan Ile Hingang dan sekitarnya yang buruk, yang perlu diperbaiki dan dibarui. Keadaan tersebut menjadi buruk karena kenakalan Plating Lela. Plating Lela itu menikah dengan puteri Gresituli bernama Golu Waleng. Kenakalan Plating Lela, yaitu mengganggu isteri orang, jelas membuat Gresituli perlu mengambil sikap yang tegas terhadapnya.

Secara bebas kita dapat menerjemahkan rangkaian kata-kata itu sebagai berikut,

Mau tenggelam ya tenggelam, mau melayang ya melayang, supaya dia jangan menjadi besar (sombong), karena pagi dan petang ia menyemburkan malapetaka.

Malapetaka yang disemburkan oleh Plating Lela selama itu ialah kerusakan kehidupan rumah tangga, baik rumah tangganya sendiri maupun rumah tangga orang lain. Agar kehidupan rumah tangga orang lain lagi tidak dirusak, maka pelakunya perlu dihukum menurut hukum adat yang berlaku pada masa itu. Hendaklah diingat bahwa mengganggu isteri orang merupakan suatu kejahatan besar yang perlu diganjari dengan hukuman mati.

Dari Nuhung teme ka’ ke’ teme ka’ kita bisa mengetahui bahwa Gresituli pun menyadari bahwa pelaksanaan hukuman mati itu akan membawa penderitaan bagi Golu Waleng, puterinya yang diperisteri oleh Plating Lela. Tapi karena Plating Lela telah berulang kali melakukan kesalahan besar, maka hukuman mati itu mau tidak mau diterapkan, dan karena itu penderitaan itu pun mau tidak mau ditanggung oleh puterinya itu.

Konteks dan latar historis dari rangkaian kata-kata yang diucapkan oleh Gresituli itu jelas. Maka artinya pun menjadi jelas pula bagi kita. Tapi apa konteks dan arti dari nuhung teme tewong alo boleng boto yang menjadi ayat favorite dari penulis “Lango Limpati?” Jawabannya, “Tau ah…. gelap.”

Ya, dengan untaian kata-kata itu, penulis “Lango Limpati” berusaha menggelapkan pikiran pembaca agar mereka tidak terbuka pada realitas sejarah sesungguhnya, khususnya realitas sejarah yang berkaitan dengan Raga anak Sani dan Ling Pati. Dengan untaian kata-kata itu, penulis tersebut berusaha menyesatkan para pembaca yang selama ini kurang atau tidak melek sejarah Lewoingu. Dikatakan menyesatkan, karena dengan kata-kata tersebut dia melakukan kebohongan publik. Isi kebohongannya ada dua, yaitu Raga anak Hule dan Ling Pati adalah milik eksklusif Kebele’eng Kelen. Upaya penyesatan itu coba dia lengkapi dengan kata-kata tertera di bawah ini,

Dunia lera wulang latala tanah ekang
teti wang pulu pito lali wade pulu lema
teti esang leing lodo, lali sorong limang gere
lodo hau tobo tukang, gere haka pae bawa
denge koda baing khiring, denge umeng baeng lamak
Kuru Sani Sedu Doweng
maung Boli Duru Moko
Tobo pi Limpati dang pukeng
pae pi gawe rage kenawe matang
Gurung koon suku matang pulo kaeng
gawa koon wokole lema kae.

Rangkaian kata-kata tersebut dia sebut sebagai preambul gatak lango Limpati. Yang jadi pertanyaan ialah “Apa arti rangkaian kata-kata tersebut? Dan untuk apa kata-kata itu digunakan?”

Kiranya jelas bahwa penulis “Lango Limpati” tidak menyadari empat hal. Pertama, kata wade dalam teti wang pulu pito lali wade pulu lema itu tidak punya arti apa-apa. Penggunaan kata itu justeru mengacaukan arti baris tersebut. Lantas pas-kah penggunaan kata baeng dan maung dalam konteksnya yang seperti itu?

Kedua, penulis “Lango Limpati” pun lupa bahwa kata-kata,

Tobo pi Limpati dang pukeng
pae pi gawe rage kenawe matang

itu merupakan ajakan kepada para leluhurnya yang disebut namanya dalam dua baris sebelumnya untuk hadir dalam suatu acara yang dia maksudkan itu. Ini merupakan lanjutan atas ajakan atau undangan atas kehadiran Lera Wulang dan Tana Ekang dalam suatu acara yang digelar entah di Ling Pati, entah pada tempat lain.

Ketiga, penulis “Lango Limpati” tidak menyadari bahwa kata Tobo pi Limpati dang pukeng pae pi gawe rage kenawe matang menunjukkan bahwa rangkaian kata-kata tersebut merupakan tambahan yang diucapkan setelah suku Kebele’eng Keleng kembali ke Ling Pati karena kasus ketihe’ yang pernah saya singgung. Dengan demikian menjadi jelas bahwa rangkaian kata-kata itu tidak menunjukkan bahwa Ling Pati adalah milik eksklusif Kebele’eng Keleng.

Keempat, penulis “Lango Limpati” juga lupa bahwa tanpa Ata Maran, tak ada satu pun ahi leang (pesta) yang dapat diadakan di Ling Pati. Coba tanyakan kepada penulis “Lango Limpati”, ahi leang apa yang dapat dia dan saudara-saudara sesukunya dapat lakukan di Ling Pati tanpa Ata Maran? 

Apa yang disebut preambul gatak lango limpati itu merupakan campuran antara pembukaan dari Marang Mukeng tertentu dan bagian tertentu dari knutu knata dari suku Kebele’eng Keleng. Jika knutu knata itu diucapkan di Ling Pati, maka kata-kata Tobo pi Limpati dang pukeng pae pi gawe rage kenawe matang itu mereka tambahkan.

Bagi saya, rangkaian kata-kata tersebut gagal menunjukkan bahwa Ling Pati adalah milik eksklusif suku Kebele’eng Keleng. ***

Senin, 26 Oktober 2009

Dung Tana Pota Wato Pota Ile Hone Woka

Oleh Rafael Raga Maran

 

Judul di atas dikutip dari gata yang diucapkan oleh Gresituli setelah dia menemukan tempat yang dirasanya layak untuk dijadikan tempat tinggalnya yang permanen. Gata itu terdiri dari kata-kata yang berasal dari dua bahasa. Dung Tana itu berasal dari bahasa Jawa dum tana, yang secara harafiah berarti bagi tanah atau kebagian tanah. Berdasarkan studi yang kami lakukan, kami menemukan bahwa istilah dum ini diadopsi oleh orang Lamaholot tempo doeloe menjadi dung, yang berarti ikut serta atau bersama. Pengertian ini berkaitan dengan arti istilah dum dalam bahasa Jawa tersebut. Kita akan lihat bagaimana kaitannya dalam suatu alinea lain dalam tulisan ini.

Pota wato pota ile hone woka berasal dari bahasa Lamaholot, yang berarti dirikan batu tinggikan gunung dirikan bukit. Tapi yang perlu kita cari adalah arti simbolik yang berada di balik kata-kata tersebut. Rangkaian kata-kata itu merupakan cetusan rasa syukur dari dalam hati Gresituli setelah dia menemukan suatu tempat yang ideal untuk dijadikan tempat tinggal. Ya, di ile woka (gunung bukit) itulah Gresituli lantas membangun tempat tinggal yang kemudian berkembang menjadi suatu kampung.

Ile wokanya itu diberi nama Dung Tana. Nama itu ditandai dengan nubanara yang didirkan di muka rumahnya. Sekarang nubanara itu terletak di depan rumah suku Lewoleing. Ke nubanara itu persembahan  diantar. Hingga sekarang di antara keturunan Gresituli pun masih ada yang mengantar persembahan ke Dung Tana. Orang-orang Lewoingu yang tidak tahu sejarah penemuan ile woka itu oleh Gresituli tidak mengetahui adanya nubanara yang bernama Dung Tana itu.

Nubanara itu berfungsi sebagai altar persembahan bagi Yang Maha Kuasa yang telah memberi Gresituli dan keluarganya tempat yang layak dan aman untuk didiami. Maka di bukit itu pula rumahnya didirikan. Maka jadilah Dung Tana Pota Wato Pota Ile Hone Woka. Arti yang berada di balik untaian kata-kata indah dapat dijelaskan sebagai berikut,

Engkau telah dianugerahi tanah, maka dirikanlah di gunung itu altar syukurmu bagi Dia yang telah memberikan engkau tanah itu, dan dirikanlah pula di bukit itu rumah tempat kediaman yang aman bagimu.

Kiranya jelas bahwa Dung Tana Pota Wato Pota Ile Hone Woka memiliki makna yang sangat mendalam. Gresituli sangat menyadari bahwa ile woka itu milik Dia Yang Di Atas Sana, yang dianugerahkan kepadanya sebagai tempat yang aman baginya untuk didiami. Artinya pemilihan tempat itu sebagai tempat tinggalnya direstui oleh Yang Maha Kuasa. Apa yang dibutuhkannya selama ini kini dianugerahkan kepadanya dengan cuma-cuma.

Namun Gresituli juga menyadari bahwa dia hanyalah seorang pendatang baru di ile woka itu. Jauh sebelum kedatangannya ke situ, tanah itu sudah dianugerahkan kepada Subang Seng yang dijumpainya di situ. Dengan kata lain, ile woka itu milik Subang Seng. Dia tahu bahwa atas perkenan Subang Seng, maka dia dan keluarganya bisa ikut tinggal di situ bersamanya. Disadarinya juga bahwa perkenan semacam itu pun merupakan suatu anugerah dari Yang Maha Baik. Maka sejak saat itu dia pun menyadari dan berusaha agar kebaikan dari Yang Maha Baik melalui Subang itu perlu disyukuri, yaitu dengan mengajak keluarga-keluarga kenalan-kenalan dan sahabat-sahabatnya serta keluarga-keluarga atau suku-suku lain yang bermukim di dua’ dan ile woka sekitar untuk tinggal bersamanya di ile wokanya itu. Kebersamaan semacam itu diperlukan untuk menghadapi masalah dan tantangan real bersama. Dan masalah dan tantangan yang paling nyata pada masa itu adalah serangan musuh yang disebut Paji. Kebersamaan menjadi jaminan bagi terselenggaranya kehidupan yang aman, damai, sejahtera.

Kepada mereka yamg mau bergabung dengannya diberinya tanah untuk dijadikan tempat tinggal. Kepada mereka juga diberikan tanah untuk dijadikan sumber rejeki kehidupan sehari-hari. Tampak jelas di sini bahwa dung tana pun berarti bahwa sesamanya pun diberi kesempatan untuk ikut memiliki tanah sebagai sumber rejeki kehidupan sehari-hari mereka masing-masing. Tanpa memiliki tanah, seorang bisa hidup, tetapi terlantar. Maka tanah pun patut diberikan kepada mereka yang membutuhkannya. Kemurahan hati Gresituli itu terus dirawat hingga kini oleh suku Lewoleing, Doweng One’eng, dan Ata Maran.

Kemurahan hati dari Yang Maha Baik tersebut di atas menginspirasikan dia nama lewoingu bagi kampung yang didirikannya pada puncak ile wokanya itu. Lewoingu terdiri dari dua kata, yaitu kata lewo yang berasal dari bahasa Lamaholot, yang berarti kampung, dan kata ingu yang berasal dari bahasa Jawa, yang berarti pelihara, rawat. Di Lewoingu para warganya dapat menemukan tempat yang aman untuk merawat dan mengembangkan diri mereka sebagai manusia. Kiranya jelas bahwa pembangunan kampung itu murni berdasarkan suatu misi kemanusiaan yang disadarinya sebagai tugas panggilan hidupnya di dunia yang penuh dengan konflik berdarah itu.

Berdasarkan penjelasan di atas, kita dengan mudah melihat salah tafsir yang dilakukan oleh Donatus Doni Kumanireng atas Dung Tana Pota Wato Pota Ile Hone Woka. Baginya, kata-kata itu berkaitan dengan cara pembangunan rumah oleh Gresituli. Dikatakan bahwa “Dungtana adalah metode: tung tana pota wato (= latu wato tung tana).” Orang itu pun beranggapan bahwa sejak dulu hingga sekarang orang Lewoingu menggunakan metode itu untuk membangun rumah mereka.

Bahwa tafsir tersebut salah, itu nampak dari kenyataan bahwa yang dibangun Gresituli adalah rumah panggung, dengan tiang-tiangnya ditancapkan di tanah. Hingga kini model rumah panggung itu masih dipertahankan dalam pembangunan rumah suku Lewoleing dan Ata Maran di kampung lama. Untuk pembangunan rumah panggung tidak diperlukan apa yang disebut tung tana pota wato yang disamakannya dengan latu wato tung tana itu. Metode pembangunan rumah yang dia maksudkan itu baru muncul pada abad ke-20, dengan catatan bahwa hingga tahun 1960-an kita masih dengan mudah menemukan adanya rumah-rumah panggung di kawasan Lewoingu dan kampung-kampung sekitarnya.

Juga terjadi kekeliruan ketika Dung Tana Pota Wato Pota Ile Hone Woka dipasangkan dengan Dungbata Lewoingu Sarabiti Waihali, karena untaian kata-kata Dungbata Lewoingu Sarabiti Waihali itu digunakan hanya untuk menyebut nama-nama tempat dan merupakan tiruan dari gata raja Larantuka yang berbunyi Kota Sarabiti Gege Waihali. Dungbata berada di kampung Lewoingu. Sedangkan Sarabiti dan Waihali adalah nama tempat yang berada di luar kampung Lewoingu. Bahwa Dung Tana (Dungtana) berpasangan dengan Dumbata (Dungbata), itu ya. Tetapi sebagai gata dengan susunan kata masing-masing seperti tertera di atas, keduanya tak dapat dipasangkan, karena level maknanya tidak sama. Jika Dung Tana Pota Wato Pota Ile Hone Woka mempunyai arti yang sangat mendalam seperti telah dijelaskan di atas, Dungbata Lewoingu Sarabiti Waihali dipakai untuk menyebutkan bahwa Dungbata itu terletak di Lewoingu, tetapi jangan lupa bahwa di luar kampung itu ada Sarabiti (Wungung Kweng) dan Waihali (nama dua’ yang terletak tak jauh dari kampung Lewoingu. Disebut Waihali, karena dulu di situ terdapat air. Air yang muncul di situ disebut hali). Untaian kata-kata itu hanya ingin menekankan bahwa Sarabiti dan Waihali juga merupakan bagian dari Dungbata Lewoingu. 

Selanjutnya saya akan membuat sedikit catatan tentang latarbelakang penemuan ile woka tersebut. Penemuan ile woka tersebut bermula dari terbakarnya rumah Gresituli di Oring Penutu’ung. Oring Penutu’ung adalah rumah Gresituli setelah dia dan keluarganya berpindah dari Lewowato. Setelah mengalami musibah kebakaran itu, dia membangun suatu rumah tempat berteduh sementara. Karena Oring Penutu’ung dianggap tak layak huni lagi, maka Gresituli berusaha mencari tempat tinggal baru ke tempat yang lebih tinggi. Maka matanya pun memandang ke gunung bukit yang berada di atas sana.

Asap yang membubung ke atas dari ile woka tersebut mengundangnya naik ke atas untuk melihat siapa gerangan orang yang membuat apinya. Orang yang dijumpai Gresituli di atas sana adalah Subang Seng. Sebelumnya dia belum pernah bertemu dengan Subang Seng. Hanya Subang Seng yang dia jumpai di situ. Setelah mengetahui maksud kunjungan Gresituli ke situ, Subang Seng lalu memberi izin kepada Gresituli untuk memilih tempat yang kiranya layak untuk dijadikan tempat tinggal.

Setelah cukup lama tinggal di situ bersama Subang Seng barulah Gresituli mengumpulkan suku-suku yang tinggal di dua’ dan ile woka sekitar untuk tinggal bersama. Subang Seng tidak mempunyai keturunan. Gresituli dan keluarganya memandang dia sebagai anggota keluarga mereka.***

Sabtu, 24 Oktober 2009

Mengamati orientasi politik kontemporer oknum-oknum tertentu dari suku Kebele’eng Keleng

Oleh Rafael Raga Maran

 

Tulisan berjudul “Lango Limpati” pada dasarnya mempertegas suatu kecenderungan yang sedang berkembang dalam diri beberapa oknum suku Kebele’eng Keleng, yaitu kecenderungan untuk mengingkari sejarahnya sendiri. Kecenderungan ini nampak jelas dari keengganan mereka untuk mengakui Manu Jagong sebagai rumah induk suku mereka. Dengan menggunakan cara pikir yang terbalik, belakangan ini mereka gencar melakukan kleim sepihak tentang hak kepemilikan ekslusif mereka atas Ling Pati.

Kleim sepihak semacam itu didasarkan pada alasan yang tidak historis, yaitu Raga bukan anak Sani. Tuduhan bahwa Raga itu anak Hule tidak memiliki dasar historis apa pun, karena Hule lebih muda usianya daripada usia Raga. Kata-kata nuhung teme tewong alo’ boleng boto yang digunakan sebagai dasar kleim tersebut oleh penulis “Lango Limpati” tidak sesuai dengan kata-kata yang diucapkan oleh Gresituli dalam menyikapi kenakalan Plating Lela. Saya yakin, bahwa penulis “Lango Limpati” sendiri dan oknum-oknum suku Kebele’eng Keleng yang mendukungnya pun tidak tahu apa arti nuhung teme tewong alo boleng boto itu.

Kiranya jelas bahwa terjadi dua problem di situ. Problem pertama nampak dalam kenyataan bahwa apa yang bukan dasar dijadikan dasar untuk mengkleim hak kepemilikan eksklusif atas Ling Pati. Problem kedua nampak dalam penggunaan kata-kata nuhung teme tewong alo boleng boto itu tadi. Jika problem pertama terjadi karena kegagalannya dalam mengembangkan penalaran yang valid, problem kedua terjadi karena kurangnya pengetahuan penulisnya tentang koda kiring yang bersangkutan dan konteks penggunaannya dalam sejarah Lewoingu.

Problem lain pun nampak ketika penulis “Lango Limpati” mengulang pembicaraan tentang situasi di seputar pembangunan Koke Bale Lewowerang-Lewoingu. Dalam proses pembangunan Koke Bale itu peranan satu tokoh saja yang ditonjolkan. Peranan Raga dan tokoh-tokoh lain diabaikan. Padahal sejarah menuturkan kepada kita bahwa pembangunan Koke Bale Lewowerang-Lewoingu dilakukan berdasarkan hasil musyawarah. Berdasarkan musyawarah itu pula tanggung jawab atas tiang-tiang Koke Bale diberikan kepada masing-masing pihak (suku) terkait. Dalam proses itu, Raga dan tokoh-tokoh dari suku-suku lain pun terlibat aktif sejak awal hingga akhir. Keliru besar ketika penulis “Lango Limpati” mengulang dongeng yang pernah dimunculkan oleh Donatus Doni Kumanireng. Yang dimaksud adalah ceritera bahwa Raga ikut Doweng tinggal di Riang Kung. Isi ceritera ini ngawur, karena pada masa itu Riang Kung itu termasuk dalam kawasan duli pali (kebun). Yang terdapat di situ adalah kebun, bukan tempat tinggal.

Melalui musyawarah itu, nama Kesowari Bereamang pertama kali disebut sebagai penanggung jawab Rie Limang Wanang. Ini merupakan penghormatan terhadap ata ile jadi (penduduk asli) yang sebelumnya bermukim di dekat wato krong (batu kembar) di Ile Hingang. Dalam bingkai penghormatan itu pula, Buge diberikan satu tiang, Hule pun diberikan satu tiang. Karena Kesowari Bereamang pergi dan tak kembali, maka tanggung jawab atas Rie Limang Wanang itu diberikan kepada Boli. Terkait dengan Rie Limang Wanang, perlu diperhatikan bahwa Rie Limang Wanang (Tiang Kanan) itu simbol kebaikan, bukan simbol kepemimpinan, bukan simbol kekuasaan. Kebaikan itu yang dicita-citakan dan diusahakan terwujud oleh setiap masyarakat manusia. Orang yang diberi tanggung jawab atas Rie Limang Wanang diharapkan dapat membawa kebaikan bagi masyarakatnya. Kepemimpinan dan kekuasaan hanyalah sarana untuk mewujudkan kebaikan yang dicita-citakan itu. Tampak jelas bahwa dalam hal simbolisasi pun si penulis “Lango Limpati” melakukan kekeliruan.

Tanggung jawab atas tiang-tiang lain diberikan pula kepada suku-suku lain terkait, termasuk kepada Lamatukang, suku Ata Maran, dll. Pendek kata, delapan suku di Lewowerang memperoleh tanggung jawab atas delapan tiang Koke Bale itu berdasarkan pemberian, bukan berdasarkan pilihan sendiri-sendiri. Yang memberikan adalah lewo, melalui musyawarah suku-suku yang hadir dalam perembukan. Di dalam kenyataan, delapan tiang itu mempunyai tugas dan fungsi yang sama, yaitu menjadi pilar-pilar utama bagi tegaknya Koke Bale. Mereka adalah simbol dari suku-suku yang menjadi penyanggah utama bangunan sosialnya. Dalam konteks pembangunan Koke Bale, titik mulainya adalah Rie Limang Wanang. Itu yang baik menurut kepercayaan masyarakat yang bersangkutan. Tetapi tak ada arti Rie Limang Wanang kalau tak ada rie-rie (tiang-tiang) lainnya. Bukankah tiang yang satu mengandaikan adanya tiang-tiang yang lain. Tiang kanan itu  mengandaikan adanya tiang kiri.

Dalam urusan kepemimpinan, Rie Limang Wanang tidak menentukan. Maka kita pun tak pernah mendengar kata-kata begini, “Dia itu memegang posisi kanan dalam kepemimpinan di negaranya.” Formasi kepemimpinan adat di Lewowerang-Lewoingu mengikuti formasi Lamaholot, yaitu Koten Kelen Hurit Maran. Urutan penyebutan ini tidak berdasarkan tinggi rendahnya posisi dalam sistem kepemimpinan kolektif itu. Di masyarakat Lamaholot tertentu, Koten Kelen Hurit Maran itu berasal dari satu leluhur. Di Lewowerang-Lewoingu hanya Ata Maran dan Kebele’eng Kelen yang berasal dari satu leluhur. Sedangkan Lamatukang (Hurit) dan Kebele’eng Koten memiliki leluhur sendiri-sendiri. Dalam formasi kepemimpinan kolektif semacam itu tidak berlaku pandangan bahwa ada suku yang memegang posisi kanan.

Kiranya jelas bahwa tiap-tiap suku yang disebut suku wuku’ matang (utama) di Lewowerang-Lewoingu itu memperoleh tiang Koke Bale melalui proses pemberian. Musyawarah lewo (kampung) yang memberikan mereka masing-masing tiang itu. Pemberian itu mengandung arti tugas dan tanggung jawab moral dalam masyarakatnya. Maka sangat berlebihan komentar dari salah seorang oknum suku Kebele’eng Keleng yang mengatakan bahwa penggunaan kata pemberian Rie Limang Wanang kepada Boli ketika saya menulis tentang Rie Limang Wanang Koke Bale Lewowerang sebagai bentuk penginjak-injakkan harga diri suku Kebele’eng Keleng. Justeru sebaliknya yang terjadi yaitu harga diri dan martabat suku Ata Maran yang telah berulang kali diinjak-injak oleh oknum suku Kebele’eng Keleng seperti Marsel Sani Kelen itu. Aksi pembunuhan atas Yoakim Gresituli Ata Maran yang dipimpin langsung oleh Mikhael Torangama Kelen merupakan bentuk penghinaan paling besar selama ini dari seorang oknum suku Kebele’eng Keleng terhadap suku Ata Maran. Bahkan dengan congkak oknum-oknum suku Kebele’eng Keleng tertentu itu pun mulai merancang dalam pikiran mereka konflik baru di kampung Eputobi. Kalau kalian merasa diri sebagai super power terus saja rancang konflik itu dan wujudkanlah sesuai dengan selera anda-anda di sana. Kalian kira, masyarakat Lewoingu akan membiarkan kalian untuk berbuat seenak perasaan kalian di sana.

Saya menghargai segala macam kebanggaan anda atas kehebatan Boli leluhur anda itu. Tetapi saya lebih menghargai kemampuan anda untuk belajar dan menghayati kearifan-kearifan Boli. Boli tidak pernah mengkleim bahwa Ling Pati adalah hak milik eksklusifnya. Sepanjang hayatnya dia tetap menjaga hubungan baik dengan Raga. Boli itu salah seorang pendekar perang, tetapi dia tidak pernah bersikap kasar apalagi membunuh sesama anggota keluarga seketurunan. Dia juga tidak berlaku kasar terhadap sesama sekampung.

Sebagai keturunan Boli, sebagai Kebele’eng, anda-anda mestinya merasa malu bahwa pada abad ke-20, muncul empat orang bapak kecil dari Mikhael Torangama Kelen yang membunuh bapak Biku Lein dan anaknya bernama Tube Lein, ketika mereka sedang tidur di pondok untuk menjaga kebun mereka yang terletak di bukit dekat Wai Rewo. Lalu pada abad ke-21, Mikhael Torangama Kelen memimpin aksi pembunuhan di malam hari atas Yoakim Gresituli Ata Maran ketika korban itu tidak berada dalam keadaan siaga untuk menghadapi ancaman bahaya nyata bagi dirinya. Kasus di bukit dekat Wai Rewo itu terjadi di saat kedua korban sedang tidur. Kasus Blou terjadi pada malam hari ketika korban sedang dalam perjalanan pulang dari Lato ke Eputobi. Dua tragedi kemanusiaan itu terjadi di malam hari. Para pelakunya datang seperti pencuri di malam hari. Setelah tahu bahwa tuan rumahnya tidur terlelap atau tidak terjaga, mereka masuk lalu mencuri nyawa yang punya rumah.

Setelah Bei Kelen, Keba Kelen, Sedu Kelen, dan Doweng Kelen ditangkap oleh polisi, ke mana isteri dan dua anak dari Bei Kelen mencari perlindungan? Jawabannya sangat jelas, ke lango’ watohong, yaitu ke rumah Bernardus Sani Ata Maran, keturunan Raga anak Sani anak Gresituli. Lalu di mana pula Bei Kelen dan tiga orang adiknya berlindung setelah mereka keluar dari rumah tahanan di Larantuka? Jawabannya sangat jelas, yaitu di lango’ watohong juga. Di rumah Bernardus Sani Ata Maran itu pula tinggal dalam waktu yang cukup lama ibu kandung dari Bei Kelen. Padahal Bei Kelen dan adik-adiknya itu masih punya saudara kandung di Eputobi (guru Pius Dalu Kelen) dan di Riang Duli (Koli Kelen). Di Eputobi juga masih terdapat keluarga-keluarga Kebele’eng Keleng yang lain. Mengapa rumah Bernardus Sani Ata Maran yang dijadikan tempat perlindungan? Saya harap anda dapat menjawabnya sendiri. Setelah meninggal, jenazah Bei Kelen pun dikuburkan di tanah milik Ata Maran. Mengapa jenazahnya tidak dikuburkan di pemakaman di Riang Duli? Atau mengapa jenazahnya itu tidak dikuburkan saja di tanah milik keluarga mereka? Yang jelas, selagi hidup dia dilindungi oleh Ata Maran, setelah mati pun tanah Ata Maran yang melindungi jenazahnya. 

Abad ke-20 pun menjadi saksi tentang perlindungan yang diberikan oleh Ata Maran kepada beberapa orang lain dari keluarga Kebele’eng Kelen yang nyawanya terancam melayang oleh kemarahan pihak tertentu. Salah satunya adalah Sepulo Kelen, orang tua dari Tobias Kelen. Padahal Sepulo Kelen itu berasal dari lapisan Kebele’eng Keleng Weruing. Karena dia tahu sejarah, maka ketika terjadi masalah dengan dirinya, dia pun berlindung di rumah Ata Maran. Dia tidak memilih berlindung di rumah keluarga Kebele’eng Keleng lain. Dan masih ada anggota-anggota lain dari suku Kebele’eng Kelen yang juga berlindung di rumah Ata Maran, tapi tak perlulah disebutkan satu per satu di sini.

Kenyataan sejarah semacam itu berkaitan langsung dengan posisi dan peranan khas Ata Maran dalam tatanan adat Lewowerang-Lewoingu. Maka para klake klama yang tahu ukularang (sejarah) suku-suku di Lewoingu pun merasa prihatin setelah mereka mengetahui adanya oknum-oknum tertentu dari suku Kebele’eng Keleng yang ikut-ikutan sibuk memutarbalikkan fakta-fakta sejarah yang berkaitan dengan Sani dan Kene, Raga, Ling Pati, dan Koke Bale. 

Yang jadi pertanyaan ialah mengapa muncul oknum-oknum tertentu dari generasi muda Kebele’eng Keleng kontemporer yang berulah aneh semacam itu? Jawabannya tidak bisa kita temukan dalam sejarah Lewoingu kuno. Jawabannya dengan mudah kita temukan dalam sejarah Lewoingu kontemporer yang sedang berproses, yaitu untuk mendukung pemeliharaan kepentingan kekuasaan politik kotor yang kini sedang dipertaruhkan di kampung Eputobi. Demi kepentingan kekuasaan politik kontemporer itulah, mereka pun berusaha sekuat tenaga untuk mengubah fakta-fakta sejarah masa lampau Lewowerang-Lewoingu, sampai-sampai mereka pun tidak lagi mengakui beberapa fakta yang berkaitan dengan sejarah suku mereka sendiri. Ini mereka perlukan sebagai alat legitimasi tradisional bagi keberlangsungan kekuasaan politik kontemporer tersebut. Dalam rangka itu, mereka gencar berkampanye bahwa mereka adalah Kebele’eng seakan-akan masyarakat Lewoingu selama ini tidak mengakui mereka sebagai Kebele’eng. Dalam kampanye murahan semacam itu, mereka pun berusaha menghapus posisi dan peranan khas Ata Maran dalam tatanan adat Lewowerang-Lewoingu.

Tetapi upaya mereka itu kini menjadi bahan tertawaan di seluruh jagat Lewoingu dan sekitarnya. Di lingkungan Kebele’eng Keleng sendiri pun timbul rasa prihatin setelah menyaksikan ulah orang seperti Marsel Sani Kelen itu. Keprihatinan itu disampaikan kepada saya juga. Makin lama semakin banyak orang di kawasan Lewoingu yang berkata begini, “Biar saja mereka itu sekarang berbuat seperti itu, toh mereka sendiri yang akan terkena akibatnya. Sejarah tak bisa diputarbalikkan.” ***